Terkadang saya masih tidak percaya bahwa saya sudah beranak tiga, dua perempuan dan satu laki-laki. Lebih parahnya, saya masih menyangsikan bahwa usia saya ternyata masuk kepala tiga. Google Photo sering mengingatkan saya beberapa momen ke belakang, tentu ketika itu berat tubuh saya masih di bawah 65 kg dan ukuran celana tidak lebih dari 32. Tak perlulah saya jabarkan dengan detail deskripsi badan saya sekarang. Yang pasti, badan saya sudah banyak mengalami “perkembangan”, sebuah keniscayaan yang, lagi-lagi, masih sulit untuk saya percayai.
Bagaimanapun, dengan berengseknya dunia bekerja dan memaksa, saya mau tak mau menikmati segala yang ada. Berusaha menginsafi atau paling tidak berusaha untuk tetap waras menghadapi hari-hari ke depan sambil menertawakan yang lalu-lalu. Ketika menengok kembali barang-barang yang ada di rumah, saya jadi punya satuan waktu yang agak lain. Misalnya, saya bilang ke anak tertua saya bahwa ia mesti hormat kepada motor Jupiter Z yang hampir rongsok itu. Sebab, motor itu lebih lama bersama saya, bahkan dibandingkan ibunya sekalipun. Jasa dan pengorbanannya lebih kabir dari barang apa pun yang ada di rumah. Bila menengok mesin cuci, saya jadi ingat bahwa garansinya sudah tidak berlaku. Barang penyelamat dari mengucek baju itu usianya lebih tua daripada anak kedua saya. Tentu, saya tekankan pula agar ia hormat dan santun kepada barang itu.
Rupanya pemikiran seperti itu menular kepada anak pertama. Ia dengan jemawa pernah menghardik adiknya bahwa ia tak boleh sombong dan mengaku-ngaku pemilik sah sepeda Wim Cycle pink. Sebab, sepeda itu tentu lebih tua daripada usia adiknya dan ia lebih merasa bahwa warisannya harus dijaga dan bahkan dirawat sedemikian rupa. Beruntungnya si bungsu adalah laki-laki, sekali lagi ini tak ada hubungannya dengan patriarki. Kebetulan dua kakaknya perempuan. Jadi, ia tak banyak memakai barang lungsuran, kecuali beberapa potong kaos. Si bungsu lebih banyak dibelikan barang baru, walaupun untuk beberapa barang, memang masih lungsuran dari beberapa sanak.
Kalau sudah menyangkut barang, saya memang kadang terlalu berlebihan untuk mengenang dan menyanjung fungsinya. Bukan karena lebay, saya rasa mungkin karena saya tidak punya keahlian lebih untuk memperbaiki barang yang rusak, apalagi untuk menggantikannya dengan yang baru. Dengan terbuka dan jujur, alih-alih hemat, dapat saya katakan dengan terang-benderang bahwa, yaaa, memang tidak ada uang untuk mengganti barang yang usang. Tapi, jika dipikir-pikir, saya sudah menerapkan kebijaksanaan baru, mungkin ungkapan ini lebih keren dibandingkan dengan menikmati kemelaratan hidup. Tentu saja kebijaksanaan ini menghindari saya dari konsumerisme. Tentu kebijaksanaan ini tidak menambah limbah di muka bumi, untuk alasan ini mungkin saya seharusnya mendapat kalpataru. Dengan kebijaksanaan ini pula, kami sekeluarga bisa lebih menghargai apa yang kami gunakan, pakai, konsumsi, juga kami manfaatkan. Selama masih pantas, selama masih berguna, selama masih berfungsi, semua barang adalah teman seperjuangan dalam menantang jahanamnya dunia.
Kelak, suatu saat, mungkin seiring dengan bertambahnya usia, kebijaksanaan baru bisa lahir. Setidaknya kami berharap kebijaksanaan perihal mudahnya bersedekah dan mengelola harta dengan baik. Tapi, untuk apa juga terlalu dipikirkan hal-hal yang demikian. Saya adalah manusia yang hidup pada hari ini, menertawakan yang lalu-lalu, dan mencoba untuk bersiap dengan hantaman masa depan. Kalau sudah begini, saya merasa goblok jika saya tidak pandai bersyukur, setidaknya.