Puisi: Angan Belaka

Aku sudah berangan-angan sejak lama
menuliskan sebuah cerita panjang
tentang orang-orang terpinggirkan
yang kemudian merangkak ke tengah dan merebut haknya

Lalu aku baru ingat
bahwa cerita epos semacam itu
tak akan dibaca oleh orang-orang terpinggirkan
karena kebanyakan masih sibuk mengurus perut

Aku sudah kalah sebelum melawan
mengapa tidak dicoba dahulu?
sayangnya nyaliku habis direnggut realitas
hidup yang menegang, mengangkang, dan menyeberang

Padahal, aku termasuk orang-orang terpinggirkan
tapi sialnya aku memakai kata “mereka” untuk menyebut mereka
celaka

Puisi: Insomnia

bagaimana mungkin mataku bisa terkatup
aku baru saja menteskan kafein ke tengah-tengah pupil
juga
aku baru saja membuat adrenalin bekerja begitu keras
degup jantungku layaknya piston yang siap meledak

bagaimana mungkin aku tidak gelisah
selepas sekolah, dengan cuma-cuma, kaubagikan senyum paling renyah
dan
aku dengan ikhlas dan rela menampung
segala ucap doa dan sumpah yang belum dan telah rampung

lewat pesan-pesan singkat seharga 350 rupiah
kita bercakap sampai lupa bahwa esok ada ulangan sejarah
sial, pikirku
andai kau pakai provider yang sama, tri misalnya,
tentu aku berani mengajakmu menonton Suster Ngesot, misalnya
di Sabtu nanti
bukan malah memikirkan bagaimana cara membeli pulsa

Puisi: Monyet Betina

Aku pernah setengah mati mencintai monyet betina sewaktu sekolah
Lalu, mereka bilang
ini yang namanya cinta monyet

Untung saja ia tak bertopeng
Kalau memang benar
tentu ia seharusnya sangat atraktif
juga bisa menghasilkan uang sendiri

Tapi
Bukan itu yang jadi pasal
Aku punya nomor hape tapi tak punya hape
Sesekali aku pasangkan nomor 3 murah meriah itu di hape ibuku

Saat aku menghubunginya, monyet betina itu
Aku barulah sadar
Ia menggunakan nomor simpati yang disematkan di hape Nokia Xpres Music miliknya sendiri

Aku jadi berpikir,
Mungkin modalku cuma nekat, atau mungkin dia terpikat
Dengan mataku yang cokelat

Diksi: Kawah Candradimuka

Sebagai tulisan perdana dalam “rubrik” diksi ini, saya hanya ingin bilang bahwa niat awalnya adalah mendokumentasikan diksi yang baru saya tahu atau, setidaknya, menurut saya kata ini cukup “ngehek” untuk diketahui khalayak. Tentunya saya tak ingin menjabarkan dan menjelaskan dengan terperinci, apalagi berdasarkan linguistik. Saya hanya akan sedikit menceritakan proses menemukan diksi tersebut. Jadi, jangan muluk-muluk berharap pada tulisan remeh-temen ini.

Sejujurnya saya mendengar “Kawah Candradimuka” ketika seorang teman sesama bapak sedang meceritakan pengalamannya jadi santri di Al-Mukmin Ngruki. Dia dengan yakin berkata bahwa pesantren harusnya menjadi kawah candradimuka untuk mencetak dai dan ahli agama (Islam), alih-alih menjadi “bengkel” tempat pesakitan anak-anak yang kelewat binal.

Saya sebelumnya pernah dengar ungkapan kawah candradimuka ini, tetapi masih bingung konteks penggunaannya. Akhirnya, karena penasaran, saya coba cari di KBBI dan hasilnya nihil. Saya masukkan ke dalam mesin pencari dan muncullah beberapa artikel yang sedikit menjelaskan bahwa Candradimuka adalah nama kawah yang digunakan oleh Gatot Kaca menempa diri dalam cerita pewayangan. Nah, dengan begitu, saya jadi lebih mengerti maksud ungkapan ini.

Omong-omong, ada tempat (kawah) di beberapa gunung di Indonesia yang dikaitkan dengan Kawah Candradimuka. Sila menjelajah di mesin pencari untuk tahu lebih detail mengenai informasi ini. Sekali lagi, saya bukan munsyi. Saya hanya ingin mendokumentasikan sesuatu yang menurut saya penting, Jika ternyata “diksi” ini berguna, itu hal baik tentunya.

Kebijaksanaan

Terkadang saya masih tidak percaya bahwa saya sudah beranak tiga, dua perempuan dan satu laki-laki. Lebih parahnya, saya masih menyangsikan bahwa usia saya ternyata masuk kepala tiga. Google Photo sering mengingatkan saya beberapa momen ke belakang, tentu ketika itu berat tubuh saya masih di bawah 65 kg dan ukuran celana tidak lebih dari 32. Tak perlulah saya jabarkan dengan detail deskripsi badan saya sekarang. Yang pasti, badan saya sudah banyak mengalami “perkembangan”, sebuah keniscayaan yang, lagi-lagi, masih sulit untuk saya percayai.

Bagaimanapun, dengan berengseknya dunia bekerja dan memaksa, saya mau tak mau menikmati segala yang ada. Berusaha menginsafi atau paling tidak berusaha untuk tetap waras menghadapi hari-hari ke depan sambil menertawakan yang lalu-lalu. Ketika menengok kembali barang-barang yang ada di rumah, saya jadi punya satuan waktu yang agak lain. Misalnya, saya bilang ke anak tertua saya bahwa ia mesti hormat kepada motor Jupiter Z yang hampir rongsok itu. Sebab, motor itu lebih lama bersama saya, bahkan dibandingkan ibunya sekalipun. Jasa dan pengorbanannya lebih kabir dari barang apa pun yang ada di rumah. Bila menengok mesin cuci, saya jadi ingat bahwa garansinya sudah tidak berlaku. Barang penyelamat dari mengucek baju itu usianya lebih tua daripada anak kedua saya. Tentu, saya tekankan pula agar ia hormat dan santun kepada barang itu.

Rupanya pemikiran seperti itu menular kepada anak pertama. Ia dengan jemawa pernah menghardik adiknya bahwa ia tak boleh sombong dan mengaku-ngaku pemilik sah sepeda Wim Cycle pink. Sebab, sepeda itu tentu lebih tua daripada usia adiknya dan ia lebih merasa bahwa warisannya harus dijaga dan bahkan dirawat sedemikian rupa. Beruntungnya si bungsu adalah laki-laki, sekali lagi ini tak ada hubungannya dengan patriarki. Kebetulan dua kakaknya perempuan. Jadi, ia tak banyak memakai barang lungsuran, kecuali beberapa potong kaos. Si bungsu lebih banyak dibelikan barang baru, walaupun untuk beberapa barang, memang masih lungsuran dari beberapa sanak.

Kalau sudah menyangkut barang, saya memang kadang terlalu berlebihan untuk mengenang dan menyanjung fungsinya. Bukan karena lebay, saya rasa mungkin karena saya tidak punya keahlian lebih untuk memperbaiki barang yang rusak, apalagi untuk menggantikannya dengan yang baru. Dengan terbuka dan jujur, alih-alih hemat, dapat saya katakan dengan terang-benderang bahwa, yaaa, memang tidak ada uang untuk mengganti barang yang usang. Tapi, jika dipikir-pikir, saya sudah menerapkan kebijaksanaan baru, mungkin ungkapan ini lebih keren dibandingkan dengan menikmati kemelaratan hidup. Tentu saja kebijaksanaan ini menghindari saya dari konsumerisme. Tentu kebijaksanaan ini tidak menambah limbah di muka bumi, untuk alasan ini mungkin saya seharusnya mendapat kalpataru. Dengan kebijaksanaan ini pula, kami sekeluarga bisa lebih menghargai apa yang kami gunakan, pakai, konsumsi, juga kami manfaatkan. Selama masih pantas, selama masih berguna, selama masih berfungsi, semua barang adalah teman seperjuangan dalam menantang jahanamnya dunia.

Kelak, suatu saat, mungkin seiring dengan bertambahnya usia, kebijaksanaan baru bisa lahir. Setidaknya kami berharap kebijaksanaan perihal mudahnya bersedekah dan mengelola harta dengan baik. Tapi, untuk apa juga terlalu dipikirkan hal-hal yang demikian. Saya adalah manusia yang hidup pada hari ini, menertawakan yang lalu-lalu, dan mencoba untuk bersiap dengan hantaman masa depan. Kalau sudah begini, saya merasa goblok jika saya tidak pandai bersyukur, setidaknya.

Dua puluh tujuh

Entah sudah berapa blog yang pernah saya buat sampai akhirnya saya membuat blog ini. Sebelumnya saya menulis di Facebook, Blogspot, sampai membuat laman sendiri dengan domain “dot com”. Saya sendiri sebenarnya muak dengan kalimat pembuka seperti di atas, tapi anehnya saya tetap menuliskannya. Seperti sebuah penegasan bahwa saya memang benar-benar tidak konsisten untuk menulis.

Jika di umur dua puluh lima saya merasa semakin menjadi seorang pengecut, di dua puluh tujuh ini saya merasa semakin khawatir. Entah apa penyebabnya, rasa paranoid kadang lebih sering muncul dibandingkan dengan optimisme. Terlepas dari hal ini, di sisi lain saya masih yakin bahwa saya tidak memerlukan psikolog atau psikiater, untuk saat ini.

Kekhawatiran paling tinggi bukan terhadap diri saya sendiri, melainkan kekhawatiran terhadap orang terdekat saya, orang yang paling saya cintai. Tapi, sudah pasti berhubungan dengan saya, baik langsung maupun tidak. Beberapa tahun ke depan, bapak sudah masuk usia pensiun. Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, entah baik entah buruk. Yang jelas, saya menjadi lebih khawatir tentang kondisi kesehatan dan mental orang tua saya. Sudah pasti akan ada beban ekonomi yang lebih berat yang mungkin saya tanggung. Setidaknya saya masih punya adik usia sekolah. Tapi, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana bapak menghabiskan masa pensiunnya nanti, itu yang jadi soal.

Saya sempat terpikirkan untuk selalu mengirimkan beberapa judul buku baru setiap bulannya atau berencana membelikan sepeda gunung agar bisa menikmati pagi dengan berolahraga. Tapi saya juga belum yakin sepenuhnya. Apa yang terjadi nanti mungkin sebaiknya hanya saya pikirkan sambil lalu. Semoga saja.

Kekhawatiran yang lain adalah mengenai sekolah si Sulung. Anak pertama saya sudah harus makan bangku sekolah. Saya senang ia semangat belajar membaca. Hampir semua teks yang ia lihat diejanya. Bahkan, bicara saja kadang ia eja huruf per huruf. Saya, mungkin sama seperti orang tua lainnya, ingin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari apa yang saya dapatkan. Saya sudah kadung skeptis dengan sistem pembelajaran di sekolah formal. Walaupun secara de facto saya berprofesi sebagai pengajar. Saya sudah hampir mual dengan sikap dan perangai siswa yang kelewat “gila”. Semoga itu hanya pikirkan sempit saya belaka.

Yang membuat rasa khawatir saya makin menyeruak adalah saya berencana memasukan si Sulung ke Kuttab Al Fatih, sekolah yang cukup anarki menurut saya. Sebab, sekolah ini lebih mementingkan adab dan akhlak, bukan deretan nilai akademis. Lagi-lagi, saya sudah kadung sering jumpa siswa pintar tapi lakunya seperti beruk. Bulan depan, akan ada stadium general. Saya tidak begitu yakin sebenarnya si Sulung bisa lolos seleksi. Tapi saya masih tetap berharap. Barangkali memang ia berjodoh dengan sekolah itu. Jika memang benar ia belum berjodoh dengan sekolah itu, saya akan pikirkan lagi nanti. Entah akan seperti apa.

Di awal tahun ini, saya mendapatkan sebuah anugerah sekaligus menambah kekhawatiran saya. Agustus nanti, anggota keluarga kami akan bertambah, entah jantan entah betina. Tentu kerja saya makin giat. Saya jadi makin sering berangkat pagi. Ambil mengajar sambilan sana-sini yang sekiranya bisa direkeningkan. Memang dasar Allah Mahaadil, selalu saja ada jalan rezekinya. Suatu waktu, ketika pillow talk, saya sempat berbincang dengan ibunya anak-anak perihal tempat bernaung. Selama ini memang kami masih menumpang di rumah orang dengan membayar per enam bulan sekali. Tiga ruangan kecil yang bagian tengahnya kami gunakan berjubel untuk mendengkur setiap malam dirasa cukup belaka. Tapi, jika anggota keluarga baru hadir. Tidak bisa tidak saya harus mau minggir untuk meringkuk di ruang depan.

Keinginan untuk punya kandang sendiri selalu ada. Tapi saya cukup berprinsip mengenai hal ini. Gaji saya memang cukup, tapi jauh dari cukup untuk membeli rumah bahkan di pinggiran Jakarta. Selama ini saya menabung, sesekali membeli beberapa gram logam Antam. Belum ada niat lagi untuk mencicil rumah dengan sistem KPR. Biarlah rumah mengontrak, tapi saya tak pusing memikirkan cicilan, begitu pikir saya. Di tengah kekhawatiran saya yang makin menyeruak mendesak, saya jadi ingin mengamalkan konsep hidup minimalisme saja. Hidup dengan fasilitas seperlunya dan bisa bahagia terus sekenyang-kenyangnya.