Entah sudah berapa blog yang pernah saya buat sampai akhirnya saya membuat blog ini. Sebelumnya saya menulis di Facebook, Blogspot, sampai membuat laman sendiri dengan domain “dot com”. Saya sendiri sebenarnya muak dengan kalimat pembuka seperti di atas, tapi anehnya saya tetap menuliskannya. Seperti sebuah penegasan bahwa saya memang benar-benar tidak konsisten untuk menulis.
Jika di umur dua puluh lima saya merasa semakin menjadi seorang pengecut, di dua puluh tujuh ini saya merasa semakin khawatir. Entah apa penyebabnya, rasa paranoid kadang lebih sering muncul dibandingkan dengan optimisme. Terlepas dari hal ini, di sisi lain saya masih yakin bahwa saya tidak memerlukan psikolog atau psikiater, untuk saat ini.
Kekhawatiran paling tinggi bukan terhadap diri saya sendiri, melainkan kekhawatiran terhadap orang terdekat saya, orang yang paling saya cintai. Tapi, sudah pasti berhubungan dengan saya, baik langsung maupun tidak. Beberapa tahun ke depan, bapak sudah masuk usia pensiun. Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, entah baik entah buruk. Yang jelas, saya menjadi lebih khawatir tentang kondisi kesehatan dan mental orang tua saya. Sudah pasti akan ada beban ekonomi yang lebih berat yang mungkin saya tanggung. Setidaknya saya masih punya adik usia sekolah. Tapi, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana bapak menghabiskan masa pensiunnya nanti, itu yang jadi soal.
Saya sempat terpikirkan untuk selalu mengirimkan beberapa judul buku baru setiap bulannya atau berencana membelikan sepeda gunung agar bisa menikmati pagi dengan berolahraga. Tapi saya juga belum yakin sepenuhnya. Apa yang terjadi nanti mungkin sebaiknya hanya saya pikirkan sambil lalu. Semoga saja.
Kekhawatiran yang lain adalah mengenai sekolah si Sulung. Anak pertama saya sudah harus makan bangku sekolah. Saya senang ia semangat belajar membaca. Hampir semua teks yang ia lihat diejanya. Bahkan, bicara saja kadang ia eja huruf per huruf. Saya, mungkin sama seperti orang tua lainnya, ingin anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari apa yang saya dapatkan. Saya sudah kadung skeptis dengan sistem pembelajaran di sekolah formal. Walaupun secara de facto saya berprofesi sebagai pengajar. Saya sudah hampir mual dengan sikap dan perangai siswa yang kelewat “gila”. Semoga itu hanya pikirkan sempit saya belaka.
Yang membuat rasa khawatir saya makin menyeruak adalah saya berencana memasukan si Sulung ke Kuttab Al Fatih, sekolah yang cukup anarki menurut saya. Sebab, sekolah ini lebih mementingkan adab dan akhlak, bukan deretan nilai akademis. Lagi-lagi, saya sudah kadung sering jumpa siswa pintar tapi lakunya seperti beruk. Bulan depan, akan ada stadium general. Saya tidak begitu yakin sebenarnya si Sulung bisa lolos seleksi. Tapi saya masih tetap berharap. Barangkali memang ia berjodoh dengan sekolah itu. Jika memang benar ia belum berjodoh dengan sekolah itu, saya akan pikirkan lagi nanti. Entah akan seperti apa.
Di awal tahun ini, saya mendapatkan sebuah anugerah sekaligus menambah kekhawatiran saya. Agustus nanti, anggota keluarga kami akan bertambah, entah jantan entah betina. Tentu kerja saya makin giat. Saya jadi makin sering berangkat pagi. Ambil mengajar sambilan sana-sini yang sekiranya bisa direkeningkan. Memang dasar Allah Mahaadil, selalu saja ada jalan rezekinya. Suatu waktu, ketika pillow talk, saya sempat berbincang dengan ibunya anak-anak perihal tempat bernaung. Selama ini memang kami masih menumpang di rumah orang dengan membayar per enam bulan sekali. Tiga ruangan kecil yang bagian tengahnya kami gunakan berjubel untuk mendengkur setiap malam dirasa cukup belaka. Tapi, jika anggota keluarga baru hadir. Tidak bisa tidak saya harus mau minggir untuk meringkuk di ruang depan.
Keinginan untuk punya kandang sendiri selalu ada. Tapi saya cukup berprinsip mengenai hal ini. Gaji saya memang cukup, tapi jauh dari cukup untuk membeli rumah bahkan di pinggiran Jakarta. Selama ini saya menabung, sesekali membeli beberapa gram logam Antam. Belum ada niat lagi untuk mencicil rumah dengan sistem KPR. Biarlah rumah mengontrak, tapi saya tak pusing memikirkan cicilan, begitu pikir saya. Di tengah kekhawatiran saya yang makin menyeruak mendesak, saya jadi ingin mengamalkan konsep hidup minimalisme saja. Hidup dengan fasilitas seperlunya dan bisa bahagia terus sekenyang-kenyangnya.